Sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan mengikuti Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Tapi kita tidak mungkin mendengar sunnah dan pemahaman mereka kecuali dengan melalui sanad (rantai para rawi). Dan sanad termasuk dalam Dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Dien kalian. Sedangkan yang paling mengerti tentang sanad adalah Ashabulhadits. Maka dalam tulisan ini kita akan lihat betapa tingginya kedudukan mereka. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Allah membuat cerah (muka) seorang yang mendengarkan (hadits) dari kami, kemudian menyampaikannya." (Hadits Shahih, H.R. Ahmad, Abu Dawud)
Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah berkata : "Hadits ini adalah Shahih, diriwayatkan oleh : Imam Ahmad dalam Musnad 5/183,Imam Abu Dawud dalam As Sunan 3/322, Imam Tirmidzi dalam As Sunan 5/33, Imam Ibnu Majah dalam As Sunan 1/84, Imam Ad Darimi dalam As Sunan 1/86, Imam Ibnu Abi Ashim dalam As Sunan 1/45, Ibnul Abdil Barr dalam Jami' Bayanil Ilmi wa Fabhilihi 1/38-39, lihat As Shahihah oleh Al 'Alamah Al Albani (404) yang diriwayatkan dari banyak jalan sampai kepada Zaid bin Tsabit, Jubair bin Muth'im dan Abdullah Bin Mas'ud Radhiallahu 'Anhu"
Hadits ini dinukil oleh Beliau (Syaikh Rabi') dalam kitab kecil yang berjudul Makanatu Ahlil Hadits (Kedudukan Ahli Hadits), yaitu ketika menukil ucapan Imam besar Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khatib Al Baghdadi (wafat 463 H) dari kitabnya Syarafu Ashabil Hadits yang artinya "Kemuliaan Ashabul Hadits." Dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan kemuliaan dan ketinggian derajat Ahlul Hadits.
Demikian pula beliau juga menjelaskan jasa-jasa mereka dan usaha mereka dalam membela Dien ini, serta menjaganya dari berbagai macam bid'ah. Diantara pujian beliau kepada mereka, beliau mengatakan : "Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan golongannya (Ahlul Hadits) sebagai tonggak syariat. Melalui usaha mereka, Dia (Allah) menghancurkan setiap keburukan bid'ah. Merekalah kepercayaan Allah Subhanahu wa Ta'ala diantara makhluk-makhluk-Nya, sebagai perantara antara Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan umatnya. Dan merekalah yang bersungguh-sungguh dalam menjaga millah (Dien)-Nya. Cahaya mereka terang, keutamaan mereka merata, tanda-tanda mereka jelas, madzhab mereka unggul, hujjah mereka tegas. ."
Setelah mengutip hadits di atas, Al Khatib rahimahullah menukil ucapan Sufyan Bin Uyainah rahimahullah dengan sanadnya bahwa dia mengatakan : "Tidak seorangpun mencari hadits (mempelajari hadits) kecuali pada mukanya ada kecerahan karena ucapan Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam : (Kemudian menyebutkan hadits di atas). Kemudian, setelah meriwayatkan hadits-hadits tentang wasiat Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam untuk memuliakan Ashabul Hadits, Beliau meriwayatkan hadits berikut :
"Islam dimulai dengan keasingan dan akan kembali asing,maka berbahagialah orang-orang yang (dianggap) asing." (H.R. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnul Majah)
Syaikh Rabi' berkata : "Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya 1/130, Imam Ahmad dalam Musnad-nya 1/398, Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya 5/19, Imam Ibnu Majah dalam Sunnah-nya 2/1319, dan Imam Ad Darimi dalam Sunan-nya 2/402."
Setelah meriwayatkan hadits ini, Al Khatib menukil ucapan Abdan rahimahullah dari Abu Hurairah dan Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'Anhu : "Mereka adalah Ashabulhadits yang pertama." Kemudian meriwayatkan hadits :
"Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh sekian firqah, semuanya dalam neraka kecuali satu."
Syaikh Rabi' berkata : "Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 2/332. Imam Abu Dawud dalam Sunan 4/197, dan Hakim dalam Al Mustadrak 1/128. Lihat Ash Shahihah oleh Syaikh kita Al 'Alamah Al Albani (203)."
Beliau (Al Khatib) kemudian mengucapkan dengan sanadnya sampai ke Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bahwa dia berkata : "Tentang golongan yang selamat, kalau mereka bukan Ahlul Hadits, saya tidak tahu siapa mereka." (Hal. 13, Syaraful Ashhabil Hadits oleh Al Khatib). Kemudian Syaikh Al Khatib menyebutkan hadits tentang Thaifah yang selalu tegak dengan kebenaran :
"Akan tetap ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran. Tidak merugikan mereka orang-orang yang mengacuhkan (membiarkan, tidak menolong)mereka sampai datangnya hari kiamat." (H.R. Muslim, Ahmad,Abu Dawud)
Syaikh Rabi' berkata : "Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya 3/1523, Imam Ahmad dalam Musnad 5/278-279, Imam Abu Dawud dalam Sunan 4/420, Imam Ibnu Majah dalam Sunan 1/4-5, Hakim dalam Mustadrak 4/449-450, Thabrani dalam Mu'jamul kabir 76643, dan Ath Thayalisi dalam Musnad halaman 94 no.689. lihat Ash Shahihah oleh Al 'Alamah Al Abani 270-1955."
Kemudian berkata (Al Khatib Al Baghdadi) : Yazid bin Harun berkata : "Kalau mereka bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu siapa mereka." Setelah itu beliau meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Mubarak, dia berkata : "Mereka menurutku adalah Ashabul Hadits." Kemudian meriwayatkan juga dengan sanadnya dari Imam Ahmad bin Sinan dan Ali Ibnul Madini bahwa mereka berkata : "Sesungguhnya mereka adalah Ashabul Hadits, Ahli Ilmu dan Atsar" (Hal. 14 - 15)
Demikianlah para ulama mengatakan bahwa Firqah Naajiah (golongan yang selamat) yaitu golongan yang selalu tegak dengan kebenaran dan selalu ditolong (Thaifah Manshurah), yaitu orang-orang yang asing(Ghuraba') di tengah-tengah kaum Muslimin yang sudah tercemar dengan berbagai macam bid'ah dan penyelewengan dari Manhaj As Sunnah dan Ashabul Hadits.
Siapakah Ashabul Hadits ?
Hadits yang pertama yang kita sebutkan menunjukkan ciri khas Ashabul Hadits, yaitu mendengarkan Hadits kemudian menyampaikannya. Dengan demikian, mereka bisa kita katakan sebagai para ulama yang mempelajari Hadits, memahami sanad, meneliti mana yang Shahih mana yang Dha'if, kemudian mengamalkannya dan menyampaikannya. Merekalah pembela As Sunnah, pemelihara Dien dan pewaris Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam serta Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu yang kemudian dibawa Ahlulhadits ini. Seorang ahli fiqih tanpa ilmu hadits adalah Aqlani (rasionalis) dan Ahli tafsir tanpa ilmu hadits adalah ahli takwil.
Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (wafat 276 H) berkata : ".Adapun Ashabul Hadits, sesunggguhnya mereka mencari kebenaran dari sisi yang benar dan mengikutinya dari tempatnya.
Mereka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mengikuti sunnah Rasul Shalallahu 'Alaihi wa Sallam serta mencari jejak-jejak dan berita-beritanya (Hadits), baik itu di darat dan di laut, di Barat maupun di Timur. Salah seorang dari mereka bahkan mengadakan perjalanan jauh dengan berjalan kaki hanya untuk mencari berita atau satu hadits, agar dia mengambilnya langsung dari penukilnya (secara dialog langsung).
Mereka terus membahas dan menyaring berita-berita (riwayat-riwayat) tersebut sampai mereka memahami mana yang shahih dan mana yang lemah, yang nasikh dan yang manshuk, dan mengetahui dari kalangan fuqaha' yang menyelisihi berita-berita tersebut dengan pendapatnya (ra'yu-nya), lalu memperingatkan mereka. Dengan demikian, Al Haq yang tadinya redup kembali bercahaya, yang tadinya kusam menjadi cerah, yang tadinya bercerai berai menjadi terkumpul.
Demikian pula orang-orang yang tadinya menjauh dari sunnah, menjadi terikat dengannya, yang tadinya lalai menjadi ingat kepadanya, dan yang dulunya berhukum dengan ucapan fulan bin fulan menjadi berhukum dengan ucapan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam " (Ta'wil Mukhtalafil Hadits dalam Muqaddimah)
Imam Abu Hatim Muhammad Ibnun Hibban bin Mu'adz bin Ma'bad bin Said At Tamimi (wafat 354 H) berkata : ".Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih sekelompok manusia dari kalangan pengikut jalan yang baik dalam mengikuti sunnah dan atsar untuk memberi petunjuk kepada mereka agar selalu taat kepada-Nya.
Allah indahkan hati-hati mereka dan memberikan pada lisan-lisan mereka Al Bayan (keterangan), yaitu mereka yang menyingkap rambu-rambu Dien-Nya, mengikuti sunnah-sunnah Rasul-Nya dengan menelusuri jalan-jalan yang panjang, meningggalkan keluarga dan negerinya, untuk mengumpulkan sunnah-sunnah dan menolak hawa nafsu (bid'ah).
Mereka mendalami sunnah dengan menjauhi ra'yu..". Pada akhirnya beliau mengatakan : "Hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala memelihara Dien ini lewat mereka untuk kaum Muslimin dan melindunginya dari rongrongan para pencela. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka sebagai imam-imam (panutan-panutan) yang mendapatkan petunjuk di saat terjadi perselisihan dan menjadikan mereka sebagai pelita malam di saat terjadi fitnah. Maka merekalah pewaris-pewaris para Nabi dan orang-orang pilihan.." (Al Ihsan 1/20-23)
Imam Abu Muhammad Al Hasan Ibnu Abdurrahman bin Khalad Ar Ramhurmuzi (wafat 360 H) berkata : "Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan Hadits dan memuliakan golongannya (Ahlul Hadits). Allah Subhanahu wa Ta'ala juga meninggikan kedudukannya dan hukumnya di atas seluruh aliran. Didahulukannya dia (Hadits) diatas semua ilmu serta diangkatnya nama-nama para pembawanya yang memperhatikannya. Maka jadilah mereka (Ahlul Hadits) inti agama dan tempat bercahayanya hujjah. Bagaimana mereka tidak mendapatkan keutamaan dan tidak berhak mendapatkan kedudukan yang tinggi, sedangkan mereka adalah penjaga-penjaga Dien ini atas umatnya." (Al Muhadditsul Fashil 1-4).
Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Al Hakim An Nisaburi (wafat 405 H) berkata setelah meriwayatkan dengan sanadnya dua ucapan tentang Ahlul Hadits (yang artinya) : Umar bin Hafs bin Ghayyats berkata : Aku mendengar ayahku ketika dikatakan kepadanya : "Tidaklah engkau melihat Ashabul Hadits dan apa yang ada pada mereka ?" Dia berkata : "Mereka sebaik-baik penduduk bumi" dan riwayat dari Abu bakarbin Ayyash : "Sungguh aku berharap Ahli Hadits adalah sebaik-baik manusia. " kemudian beliau (Abu Abdullah Al Hakim) berkata : "Keduanya telah benar bahwa Ashabul Hadits adalah sebaik baik manusia. Bagaimana tidak demikian? Mereka telah mengorbankan dunia seluruhnya di belakang mereka . Kemudian menjadikan penulisan sebagai makanan mereka, penelitian sebagai hidangan mereka, mengulang-ulang sebagai istirahat mereka.."
Dan akhirnya beliau mengatakan : "Maka akal-akal mereka dipenuhi dengan kelezatan kepada sunnah. Hati-hati mereka diramaikan dengan keridhaan dalam berbagai keadaan. Kebahagiaan mereka adalah mempelajari sunnah. Hobi mereka adalah majelis-majelis ilmu. Saudara mereka adalah seluruh Ahlus Sunnah dan musuh mereka adalah seluruh Ahlul Ilhad dan Ahlul Bid'ah." (Ma'rifatu Ulumul Hadits 1-4)
Berkata Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali tentang Ashabul Hadits : "Mereka adalah orang-orang yang menjalani manhaj para sahabat dan tabi'in, yang mengikuti mereka dengan ihsan dalam berpegang dalam kitab dan sunnah, dan menggigit keduanya dengan geraham meerka, mendahulukan keduanya da atas semua ucapan dan petunjuk, apakah itu dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik, ataukah sosial.
Oleh sebab itu , mereka adalah orang-orang yang mantap dalam dasar-dasar dan cabang-cabang Dien ini, sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan dan wahyukan kepada Rasul-Nya Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
Mereka tegak dalam dakwah, mengajak kepada yang demikian dengan sungguh-sungguh dan jujur dengan tekad yang kuat. Merekalah pembawa-pembawa ilmu Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, dari kedustaan orang-orang yang bathil dan dari takwilnya orang-orang yang bodoh .
Oleh karena itu mereka selalu mengintai, memperhatikan setiap firqah-firqah yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyyah, Mu'tazilah, Khawarij, Rafidhah, Murji'ah, Qadariyyah, dan setiap firqaah yang menyempal dari manhaj Allah di setiap jaman dan setiap tempat. Mereka tidak peduli dengan celaan orang-orang yang mencela.."
Beliau pun akhirnya menyebut mereka dengan sebutan golongan yang selamat (Firqatun Naajiah) yang selalu tegak dengan kebenaran dan selalu ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala (Thaifah Manshurah)
kemudian berkata : "Mereka setelah sahabat Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dengan pimpinan mereka, Al Khulafaur Rasyidin, adalah para tabi'in. Diantara tokoh-tokoh mereka adalah :
Sa'id bin Musayyab (wafat setelah 90 H)
Urwah bin Zubair(wafat 94 H)
Ali bin Husain Zainal Abidin (wafat93 H)
Muhammad Ibnul Hanafiyyah (wafat80 H0
Ubaidillah bin Abdullah bin Umar (wafat 106 H)
Al Qasim bin Muhammad bin Muhammad bin abu bakar Ash Shiddiq (wafat 106 H)
Al Hasan Al Bashri (wafat 110 h)
Muhammad bin Sirrin (wafat 110 H)
Umar bin Abdul Aziz (wafat 101 H0
Muhammad bin Syihab Az Zuhri (wafat 125 H) dan lain lain
Kemudian diantara tabi'ut tabi'in (pengikut tabi'in) tokoh-tokoh mereka adalah :
Imam Malik (wafat 179 H)
Al Auza'i (wafat 198 H)
Sufyan Ats Tsauri (wafat 161 H)
Sufyan bin Uyainah (wafat198 H)
Ismail bin Ulayyah (wafat 198 H)
Al Laits bin Sa'd (wafat 175 H)
Abu Hanifah An Nu'man (wafat 150 H) dan lain-lain.
Setelah tabiut tabi'in adalah pengikut mereka, diantaranya :
Abdullah ibnu mubarak (wafat 181 H)
Waqi' bin Jarrah (wafat 197 H)
Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'i (wafat 204 H)
Abdurrahman bin Mahdi (198 H)
Yahya bin Said Al Qattan (wafat 198 H)
Affan bin Muslim (wafat 219 H) dan lain-lain.
Kemudian pengikut mereka yang menjalani manhaj mereka diantaranya :
Imam Ahmad bin Hambal (wafat 241 H)
Yahya bin Main (wafat 233 H)
Ali Ibnul Madini (wafat 234 H), dan lain-lain.
Kemudian murid-murid mereka seperti :
Al Bukhari (wafat 256 H)
Muslim (wafat 261 H)
Abu Hatim (wafat 277 H)
Abu Zur'ah (wafat 264 H)
Abu Dawud (wafat 275 H)
At Tirmidzi (wafat 279 H)
An Nasa'I (wafat 303 H), dan lain-lain.
Setelah itu orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah :
Ibnu Jarir At Thabari (wafat 310 H)
Ibnul Khuzaimah (wafat 311 H)
Ad Daruquthni (wafat 385 H)
Ibnul Abdil Barr (wafat 463 H)
Abdul Ghani Al Maqdisi sdan Ibnul Qudamah (wafat 620 H)
Ibnu Shalih (wafat 743 H)
Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H)
Al Muzzi (wafat 743 H)
Adz Dzahabi (wafat 748 H)
Ibnu Katsir (wafat 774 H)
Dan ulama yang seangkatan di zaman mereka.
Kemudian yang setelahnya yang mengikuti jejak mereka dalam berpegang dengan kitab dan sunnah sampai hari ini. Mereka itulah yang kita sebut dengan Ashabul Hadits.
PEMBELAAN MEREKA TERHADAP AQIDAH
Sebagaimana telah disebutkan di atas, mereka adalah pembawa ilmu dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam Mereka membelanya dan membersihkannya dari penyelewengan, kedustaan dan takwil-takwil ahli bid'ah
Maka, ketika muncul ahli bid'ah yang pertama, yaitu Khawarij, Ali dan para Sahabat radhiallahu anhum bangkit membantah mereka, kemudian memerangi mereka dan mengambil dari Rasululah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam riwayat-riwayat yang menyuruh unntuk membunuh mereka dan mengkhabarkan bahwa membunuh mereka adalah sebaik-baik pendekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (Lihat Mawaqifush Shahabah fi Fitnah Bab 3 Juz 2 hal 191 oleh Dr. Muhammad Ahmazun)
Ketika Syiah muncul, Ali Radhiallahu 'Anhu mencambuk orang-orang yang mengatakan dirinya lebih baik daripada Abu Bakar dan Umar dengan delapan puluh kali cambukan. Dan orang-orang ekstrim di kalangan mereka yang mengangkat Ali Radhiallahu 'Anhu sampai kepada tingkatan Uluhiyyah (ketuhanan), dibakar deengan api. (Lihat Fatawa Syaikhul Islam)
Demikian pula ketika sampai kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhu berita tentang suatu kaum yamg menafikan (menolak) takdir dan mengatakan bahwa menurut mereka perkara ini terjadi begitu saja (kebetulan), beliau mengatakan kepada pembawa berita tersebut : "Jika engkau bertemu mereka, khabarkanlah pada mereka bahwa aku berlepas diri (bara') dari meerka dan mereka berlepas diri dariku ! Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau salah seorang mereka memiliki emas segunung uhud, kemudian diinfaqkan di jalan Allah, Allah tidak akan menerima daripadanya sampai dia beriman dedngan taqdir baik dan buruknya." (H.R. Muslim 1/36)
Imam Malik pun ketika ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa Al Qur'an itu makhluk, maka beliau berkata : "Dia menurut pendapat adalah kafir, bunuhlah dia !" Juga Ibnul Mubarak, Al Laits bin Sa'ad, Ibnun Uyainah, Hasyim, Ali bin Ashim, Hafs bin Ghayats maupun Waqi bin Jarrah sependapat dengannya. Pendapat yang seperti ini juga diriwayatkan dari Imam Tsauri, Wahab bin Jarir dan Yazid bin Harun. (Mereka semua mengatakan) : Orang-orang itu diminta untuk taubat, kalau tidak mau dipenggal kepala mereka. (Syarah Ushul I'tikad 494, Khalqu Af'alil Ibad hal 25, Asy'ariyah oleh Al Ajuri hal. 79, dan Syarhus Sunnah/ Al Baghawi 1/187)
Rabi' bin Sulaiman Al Muradi, sahabat Imam Syafi'i, berkata : "Ketika Haf Al Fardi mengajak bicara Imam Syafi'i dan ia mengatakan bahwa Al Qur'an itu makhluk, maka Imam berkata kepadanya : "Engkau telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung."
Imam Malik pernah ditanya tentang bagaimana istiwa' Allah di atas 'Arsy-Nya, maka dia mengatakan : "Istiwa' sudah diketahui (maknanya), sedangkan bagaimananya tidak diketahui. Dan pertanyaan tentang itu adalah bid'ah dan aku tidak melihatmu kecuali Ahli Bid'ah !" Kemudian (orang yang bertanya tentang itu) diperintahkan untuk keluar dan Beliau menegaskan bahwa sesungguhnya Allah itu di langit. Dan beliau pernah mengeluarkan seseorang dari majelisnya karena dia seorang Murji'ah. (Syarah Ushul I'tiqad 664)
Said bin Amir berkata : "Al Jahmiyyah lebih jelek ucapannya daripada Yahudi dan Nashrani dan seluruh penganut agama (samawi), telah sepakat bahwa Allah Tabaraka wa Ta'ala di atas Arsy-Nya, tapi mereka (Al Jahmiyyah) mengatakan tidak ada sesuatu pun di atas Arsy." (Khalqu Af'alil Ibad Hal. 15)
Ibnul Mubarak berkata : "Kami tidak mengatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Dia (Allah) itu di bumi. Tetapi (kami katakan) Allah di atas Arsy-Nya ber-istiwa'." Ketika ditanyakan kepadanya : "Bagaimana kita mengenali Rabb kita ?" Beliau berkata : "Di atas Arsy.Sesungguhnya kami bisa mengisahkan ucapan Yahudi dan Nashrani, tapi kami tidak mampu untuk mengisahkan ucapan Jahmiyyah." (Khalqu Af'alil Ibad / Bukhari hal. 15 As Sunnah /Abdullah bin Ahmad bin Hambal 1/111 dan Radd Alal Jahmiyyah / Ad Darimi hal. 21 dan 184)
Imam Bukhari berkata : "Aku telah melihat ucapan Yahudi, Nashara dan Majusi. Tetapi aku tidak melihat yang lebih sesat dalam kekufuran selain mereka (Jahmiyyah) dan sesungguhnya aku menganggap bodoh siapa yang tidak mengkafirkan mereka kecuali yang tidak mengetahui kekufuran mereka." (Khalqu Af'alil Ibad hal. 19)
Dikeluarkan oleh Baihaqi dengan sanad yang baik dari Al Auza'i bahwa dia berkata : "Kami dan seluruh tabi'in mengatakan bahwa sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan kami beriman dengan sifat-sifat yang diriwayatkan dalam sunnah."
Abul Qasim menyebutkan sanadnya sampai ke Muhammad bin Hasan Asy Syaibani bahwa dia berkata : "Seluruh fuqaha' (ulama) di timur dan di barat telah sepakat atas keimanan kepada Al Qur'an dan Al Hadits yang dibawa oleh rawi-rawi yang tsiqqah (terpecaya) dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam tentang sifat-sifat Rabb Subhanahu wa Ta'ala tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa tafsir (takwil). Barangsiapa menafsirkan sesuatu daripadanya dan mengucapkan seperti ucapan Jahm (bin Sofyan), maka dia telah keluar dari apa yamg ada di atasnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, dan dia telah memisahkan diri dari Al Jama'ah karena telah mensifati Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sifat yang tidak ada." (Syarah Usul I'tiqad ahlus Sunnah 740)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Manaqib Syafi'i dari Yunus bin Abdul A'la : Aku mendengar Imam Syafi'i berkata : "Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tidak seorangpun bisa menolaknya. Barangsiapa yang menyelisihinya setelah tetap (jelas) baginya hujjah, maka dia telah kafir. Adapun jika (menyelisihinya ) sebelum tegaknya hujjah, maka dia dimaklumi karena bodoh. Karena ilmu tentangnya tidak bisa dicapai dengan akal dan mimpi. Tidak pula dengan pemikiran. Oleh sebab itu, kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikkan tasybih sebagaimana Allah menafikkan dari dirinya sendiri." (Lihat Fathul Bari 13/406-407)
Abu Isa Muhammad bin Isa At Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits tentang Allah menerima sedekah dengan tangan kanannya (muttafaqun alaih), katanya : "Tidak hanya satu dari Ahli Ilmu (ulama) yang telah berkata tentang hadits ini dan yang mirip dengan ini dari riwayat-riwayat tentang sifat-sifat Allah seperti turunnya Allah Subhanahu wa Ta'ala setiap malam ke langit dunia. Mereka semua mengatakan : Telah tetap riwayat-riwayat tentangnya , diimani dengannya , tidak menduga-duga dan tidak mengatakan "bagaimana". Demikian pula ucapan seluruh Ahli Ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah."
Demikianlah contoh ucapan-ucapan mereka dalam menjaga dan membela aqidah ini yang bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah. Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah menukil dari Abu Hatim dari Abdullah bin Dawud Al Khuraibi bahwa Ashabul Hadits dan pembawa-pembawa ilmu adalah kepercayaan Allah atas Dien-Nya dan penjaga-penjaga atas sunnah Nabi-Nya, selama mereka berilmu dan beramal.
Ditegaskan oleh Imam Ats Tsauri Rahimahullah : "Malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan Ashabul Hadits adalah penjaga-penjaga dunia." Ibnu Zura'i juga mengatakan : "Setiap Dien memiliki pasukan berkuda. Maka pasukan berkuda dalam Dien ini adalah Ashabul Asanid (Ashabul Hadits)."
Mereka memang benar. Ashabul Hadits adalah pasukan inti dalam Dien ini. Mereka membela dan menjaga Dien dari penyelewengan, kesesatan dan kedustaan orang-orang munafiqin dan Ahlul Bid'ah. Hampir semua Ashabul Hadits menulis kitab-kitab Ahlus Sunnah serta membantah aqidah dan pemahaman-pemahaman bid'ah yang dan sesat, baik itu fuqaha' (ahli fikih) mereka, mufassir (ahli tafsir) mereka maupun seluruh ulama-ulama dari kalangan mereka (Ahlul Hadits). Semoga Allah memberi pahala bagi mereka dengan amalan-amalan mereka, dan memberi pahala atas usaha mereka yang sampai hari ini dirasakan manfaatnya oleh kaum Muslimin dengan ilmu-ilmu yang mereka tulis, riwayat-riwayat yang mereka kumpulkan dan hadits-hadits yang mereka periksa.
Akhirnya, marilah kita simak perkataan Imam Syafi'i rahimahullah ini : "Jika aku melihat seseorang dari Ashabul Hadits, maka seakan-akan aku melihat Nabi hidup kembali." (Syaraf Ashabul Hadits hal. 26)
Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang lebih dulu beriman daripada kami. Dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kebencian atau kedengkian kepada mereka. Wahai Rabb kami, sesunggguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Amien Ya Rabbal 'Alamin.
Monday, July 20, 2009
KAIDAH DAN PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH DALAM MENGAMBIL DAN MENGGUNAKAN DALIL [1]
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
[1]. Sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (al-Qur-an), Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih dan ijma' Salafush Shalih.
[2]. Setiap Sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya Ahad.[2]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terima-malah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]
[3]. Yang menjadi rujukan dalam memahami al-Qur-an dan as- Sunnah adalah nash-nash (teks al-Qur-an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Namun jika hal tersebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang berupa kemungkinan sifatnya menurut bahasa.
[4]. Prinsip - prinsip utama dalam agama (Ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama. Allah telah menyempurnakan agamaNya, wahyu telah terputus dan kenabian telah ditutup, sebagaimana Allah berfirman:
“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maaidah : 3].
RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan-nya tertolak” [3]
[5]. Berserah diri (taslim), patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Quran dan as- Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang Syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan lainnya.
[6.] Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shahih. Sesuatu yang qath'i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli (ayat ataupun hadits) harus didahulukan.
[7]. Rasulullah 'Alaihi shallatu wa sallam adalah ma'shum (dipelihara Allah dari kesalahan) dan para Shahabat Radhiyallahu ajmain secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan di atas kesesatan. Namun secara individu, tidak ada seorang pun dari mereka yang ma'shum. Jika ada perbedaan di antara para Imam atau yang selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah j dengan me-maafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang yang berijtihad.
[8]. Bertengkar dalam masalah agama itu tercela, akan tetapi mujadalah (berbantahan) dengan cara yang baik itu masyru‘ah (disyariatkan). Dalam hal yang telah jelas (ada dalil dan keterangannya dalam al-Quran dan as- Sunnah ) dilarang berlarut-larut dalam pembicaraan panjang tentangnya, maka wajib mengikuti ketetapan dan menjauhi larangannya. Dan wajib menjauhkan diri untuk berlarut-larut dalam pembicaraan yang memang tidak ada ilmu bagi seorang muslim tentangnya (misalnya tentang Sifat Allah, qadha' dan qadar, tentang ruh dan lainnya, yang ditegaskan bahwa itu termasuk urusan Allah Azza wa Jalla). Selanjutnya sudah selayaknya menyerahkan hal tersebut kepada Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Tidaklah sesat suatu kaum setelah Allah memberikan petunjuk atas mereka kecuali mereka berbantah-bantahan kemudian membacakan ayat: ‘...Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud mem-bantah saja...'” [Az-Zukhruf : 58] [4]
[9]. Kaum Muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) al-Quran dan as- Sunnah dalam menolak sesuatu, dalam hal ‘aqidah dan dalam menjelaskan suatu masalah. Oleh karena itu, suatu bid‘ah tidak boleh dibalas dengan bid'ah lagi, kekurangan tidak boleh dibalas dengan berlebih-lebihan atau sebaliknya.[5]
[10]. Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya di dalam agama adalah bid‘ah. Setiap bid‘ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Setiap bid‘ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka." [6]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah (hal. 44-45), Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah fil ‘Aqiidah (hal 5-9) karya Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim al ‘Aql dan kitab-kitab lainnya.
[2]. Hadits ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat atau lebih, tetapi periwayatannya dalam jumlah yang terhitung.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha.
[4]. HR. At-Tirmidzi (no. 3250), Ibnu Majah (no. 48), Ahmad (V/252, 256), disha-hihkan oleh al-Hakim (II/447-448) dan disepakati adz-Dzahabi. At-Tirmidzi ber-kata, “Hadits ini hasan.” Dari Shahabat Abu Umamah al-Bahily Radhiyallahu 'anhu
[5]. Maksud dari pernyataan ini adalah tentang bid'ahnya Jahmiyyah yang menafikan Sifat-Sifat Allah, dibantah oleh Musyabbihah (Mujassimah) yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, atau seperti bid'ahnya Qadariyyah yang mengatakan bahwa makhluk mempunyai kemampuan dan kekuasaan yang tidak dicampuri oleh kekuasaan Allah ditentang oleh Jabariyyah yang mengatakan bahwa makhluk tidak mempunyai kekuasaan dan makhluk ini dipaksa menurut pendapat mereka. Ini adalah contoh tentang bid'ah yang dilawan dengan bid'ah. Wallaahu a'lam.
[6]. HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang shahih. Lihat Shahih Sunan an-Nasa-i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51).
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1299&bagian=0
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
[1]. Sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (al-Qur-an), Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih dan ijma' Salafush Shalih.
[2]. Setiap Sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya Ahad.[2]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terima-malah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]
[3]. Yang menjadi rujukan dalam memahami al-Qur-an dan as- Sunnah adalah nash-nash (teks al-Qur-an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Namun jika hal tersebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang berupa kemungkinan sifatnya menurut bahasa.
[4]. Prinsip - prinsip utama dalam agama (Ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama. Allah telah menyempurnakan agamaNya, wahyu telah terputus dan kenabian telah ditutup, sebagaimana Allah berfirman:
“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maaidah : 3].
RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan-nya tertolak” [3]
[5]. Berserah diri (taslim), patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Quran dan as- Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang Syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan lainnya.
[6.] Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shahih. Sesuatu yang qath'i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli (ayat ataupun hadits) harus didahulukan.
[7]. Rasulullah 'Alaihi shallatu wa sallam adalah ma'shum (dipelihara Allah dari kesalahan) dan para Shahabat Radhiyallahu ajmain secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan di atas kesesatan. Namun secara individu, tidak ada seorang pun dari mereka yang ma'shum. Jika ada perbedaan di antara para Imam atau yang selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah j dengan me-maafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang yang berijtihad.
[8]. Bertengkar dalam masalah agama itu tercela, akan tetapi mujadalah (berbantahan) dengan cara yang baik itu masyru‘ah (disyariatkan). Dalam hal yang telah jelas (ada dalil dan keterangannya dalam al-Quran dan as- Sunnah ) dilarang berlarut-larut dalam pembicaraan panjang tentangnya, maka wajib mengikuti ketetapan dan menjauhi larangannya. Dan wajib menjauhkan diri untuk berlarut-larut dalam pembicaraan yang memang tidak ada ilmu bagi seorang muslim tentangnya (misalnya tentang Sifat Allah, qadha' dan qadar, tentang ruh dan lainnya, yang ditegaskan bahwa itu termasuk urusan Allah Azza wa Jalla). Selanjutnya sudah selayaknya menyerahkan hal tersebut kepada Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Tidaklah sesat suatu kaum setelah Allah memberikan petunjuk atas mereka kecuali mereka berbantah-bantahan kemudian membacakan ayat: ‘...Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud mem-bantah saja...'” [Az-Zukhruf : 58] [4]
[9]. Kaum Muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) al-Quran dan as- Sunnah dalam menolak sesuatu, dalam hal ‘aqidah dan dalam menjelaskan suatu masalah. Oleh karena itu, suatu bid‘ah tidak boleh dibalas dengan bid'ah lagi, kekurangan tidak boleh dibalas dengan berlebih-lebihan atau sebaliknya.[5]
[10]. Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya di dalam agama adalah bid‘ah. Setiap bid‘ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Setiap bid‘ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka." [6]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah (hal. 44-45), Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah fil ‘Aqiidah (hal 5-9) karya Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim al ‘Aql dan kitab-kitab lainnya.
[2]. Hadits ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat atau lebih, tetapi periwayatannya dalam jumlah yang terhitung.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha.
[4]. HR. At-Tirmidzi (no. 3250), Ibnu Majah (no. 48), Ahmad (V/252, 256), disha-hihkan oleh al-Hakim (II/447-448) dan disepakati adz-Dzahabi. At-Tirmidzi ber-kata, “Hadits ini hasan.” Dari Shahabat Abu Umamah al-Bahily Radhiyallahu 'anhu
[5]. Maksud dari pernyataan ini adalah tentang bid'ahnya Jahmiyyah yang menafikan Sifat-Sifat Allah, dibantah oleh Musyabbihah (Mujassimah) yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, atau seperti bid'ahnya Qadariyyah yang mengatakan bahwa makhluk mempunyai kemampuan dan kekuasaan yang tidak dicampuri oleh kekuasaan Allah ditentang oleh Jabariyyah yang mengatakan bahwa makhluk tidak mempunyai kekuasaan dan makhluk ini dipaksa menurut pendapat mereka. Ini adalah contoh tentang bid'ah yang dilawan dengan bid'ah. Wallaahu a'lam.
[6]. HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang shahih. Lihat Shahih Sunan an-Nasa-i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51).
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1299&bagian=0
Thursday, July 16, 2009
KESAKSIAN IBLIS
Edisi ini saya akan berbagi tentang satu hadits panjang yang luar biasa dahsyat maknanya.Saya yakin cukup dengan satu hadits ini jika setiap kita membaca, Edisi ini saya akan berbagi tentang satu hadits panjang yang luar biasa dahsyat maknanya.Saya yakin cukup dengan satu hadits ini jika setiap kita membaca, menyelami dan mengamalkannya dengan baik insya Allah kita akan menjadi mukmin sejati. Tak perlu berpanjang, berikut kutipan lengkapnya.
Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba - tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: "Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku. " Rasulullah bersabda: "Tahukah kalian siapa yang memanggil?"
Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih tahu". Beliau melanjutkan, "itu iblis, laknat Allah bersamanya". Umar bin Khattab berkata: "izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah".
Nabi menahannya: " Sabar wahai Umar , bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik."
Ibnu Abbas RA berkata : pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya.. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis berkata: "Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin", Rasulullah SAW lalu menjawab: "Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu? "
Iblis menjawab: "Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa".
"Siapa yang memaksamu? "
"Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin".
"Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh".
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?" Iblis segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."
"Siapa selanjutnya? " tanya Rasulullah.
"Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."
"Lalu siapa lagi?"
"Orang Alim dan wara' (Loyal)"
"Lalu siapa lagi?"
"Orang yang selalu bersuci."
"Siapa lagi?"
"Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain."
"Apa tanda kesabarannya? "
" Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang - orang yang sabar".
"Selanjutnya apa?"
"Orang kaya yang bersyukur"
"Apa tanda kesyukurannya ?"
"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya ."
"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"
"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."
"Umar bin Khattab?"
"Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur. "
"Usman bin Affan?"
"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya ."
"Ali bin Abi Thalib?"
" Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu." (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
"Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?"
"Aku merasa panas dingin dan gemetar. "
"Kenapa?"
"Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat."
"Jika seorang umatku berpuasa?"
"Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka ."
"Jika ia berhaji?"
"Aku seperti orang gila. "
"Jika ia membaca al-Quran?"
"Aku merasa meleleh laksana timah diatas api."
"Jika ia bersedekah?"
"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji."
"Mengapa bisa begitu? "
"Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."
"Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?"
"Suara kuda perang di jalan Allah."
"Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?"
"Taubat orang yang bertaubat."
"Apa yang dapat membakar hatimu?"
"Istighfar di waktu siang dan malam."
"Apa yang dapat mencoreng wajahmu?"
"Sedekah yang diam - diam. "
"Apa yang dapat menusuk matamu?"
"Shalat fajar."
"Apa yang dapat memukul kepalamu? "
"Shalat berjamaah ."
"Apa yang paling mengganggumu? "
"Majelis para ulama."
"Bagaimana cara makanmu?"
"Dengan tangan kiri dan jariku."
"Dimanakah kau menaungi anak - anakmu di musim panas?"
"Di bawah kuku manusia."
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : "Siapa temanmu wahai Iblis?"
"Pemakan riba."
"Siapa sahabatmu?"
"Pezina."
"Siapa teman tidurmu?"
"Pemabuk."
"Siapa tamumu? "
"Pencuri."
"Siapa utusanmu?"
"Tukang sihir."
"Apa yang membuatmu gembira?"
"Bersumpah dengan cerai."
"Siapa kekasihmu? "
"Orang yang meninggalkan shalat jumaat."
"Siapa manusia yang paling membahagiakanmu? "
"Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja."
Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : "Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu. "
Iblis segera menimpali: " tidak, tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku.
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bias
membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas."
"Siapa orang yang ikhlas menurutmu ?"
"Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku."
Iblis Dibantu oleh 70.000 anak - anaknya
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70..000 syaithan. Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak - anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta - wanita tua, sebagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaithan juga berkata,"keluarkan tanganmu", lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya. Mereka, anak - anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur..
Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta..
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata - kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak - anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya \'lihat kiri dan kananmu\', ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan \'shalatmu tidak sah\'. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat.
Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. Aku katakan padanya, "kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat."
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari Islam?"
10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT
"Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?"
"10 macam"
"Apa saja?"
"Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, "Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan." (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba. Aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah. Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku. Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah berfirman, "Orang - orang boros adalah saudara - saudara syaithan. " (QS Al-Isra : 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, "silahkan", aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : "Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda."
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :"mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT " (QS Hud :118 - 119). Juga membaca, " Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku" (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata: " Wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering.. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk-mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong.
Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba - tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: "Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku. " Rasulullah bersabda: "Tahukah kalian siapa yang memanggil?"
Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih tahu". Beliau melanjutkan, "itu iblis, laknat Allah bersamanya". Umar bin Khattab berkata: "izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah".
Nabi menahannya: " Sabar wahai Umar , bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik."
Ibnu Abbas RA berkata : pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya.. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis berkata: "Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin", Rasulullah SAW lalu menjawab: "Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu? "
Iblis menjawab: "Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa".
"Siapa yang memaksamu? "
"Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin".
"Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh".
Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?" Iblis segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci."
"Siapa selanjutnya? " tanya Rasulullah.
"Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT."
"Lalu siapa lagi?"
"Orang Alim dan wara' (Loyal)"
"Lalu siapa lagi?"
"Orang yang selalu bersuci."
"Siapa lagi?"
"Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain."
"Apa tanda kesabarannya? "
" Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang - orang yang sabar".
"Selanjutnya apa?"
"Orang kaya yang bersyukur"
"Apa tanda kesyukurannya ?"
"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya ."
"Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?"
"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam."
"Umar bin Khattab?"
"Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur. "
"Usman bin Affan?"
"Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya ."
"Ali bin Abi Thalib?"
" Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu." (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
"Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?"
"Aku merasa panas dingin dan gemetar. "
"Kenapa?"
"Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat."
"Jika seorang umatku berpuasa?"
"Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka ."
"Jika ia berhaji?"
"Aku seperti orang gila. "
"Jika ia membaca al-Quran?"
"Aku merasa meleleh laksana timah diatas api."
"Jika ia bersedekah?"
"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji."
"Mengapa bisa begitu? "
"Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."
"Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?"
"Suara kuda perang di jalan Allah."
"Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?"
"Taubat orang yang bertaubat."
"Apa yang dapat membakar hatimu?"
"Istighfar di waktu siang dan malam."
"Apa yang dapat mencoreng wajahmu?"
"Sedekah yang diam - diam. "
"Apa yang dapat menusuk matamu?"
"Shalat fajar."
"Apa yang dapat memukul kepalamu? "
"Shalat berjamaah ."
"Apa yang paling mengganggumu? "
"Majelis para ulama."
"Bagaimana cara makanmu?"
"Dengan tangan kiri dan jariku."
"Dimanakah kau menaungi anak - anakmu di musim panas?"
"Di bawah kuku manusia."
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : "Siapa temanmu wahai Iblis?"
"Pemakan riba."
"Siapa sahabatmu?"
"Pezina."
"Siapa teman tidurmu?"
"Pemabuk."
"Siapa tamumu? "
"Pencuri."
"Siapa utusanmu?"
"Tukang sihir."
"Apa yang membuatmu gembira?"
"Bersumpah dengan cerai."
"Siapa kekasihmu? "
"Orang yang meninggalkan shalat jumaat."
"Siapa manusia yang paling membahagiakanmu? "
"Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja."
Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : "Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu. "
Iblis segera menimpali: " tidak, tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku.
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bias
membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas."
"Siapa orang yang ikhlas menurutmu ?"
"Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku."
Iblis Dibantu oleh 70.000 anak - anaknya
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70..000 syaithan. Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak - anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta - wanita tua, sebagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaithan juga berkata,"keluarkan tanganmu", lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya. Mereka, anak - anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur..
Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta..
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata - kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak - anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya \'lihat kiri dan kananmu\', ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan \'shalatmu tidak sah\'. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat.
Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. Aku katakan padanya, "kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat."
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari Islam?"
10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT
"Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?"
"10 macam"
"Apa saja?"
"Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, "Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan." (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba. Aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah. Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku. Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah berfirman, "Orang - orang boros adalah saudara - saudara syaithan. " (QS Al-Isra : 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, "silahkan", aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : "Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda."
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :"mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT " (QS Hud :118 - 119). Juga membaca, " Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku" (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata: " Wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering.. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk-mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong.
Friday, June 26, 2009
Tugas orang-orang yang berkuasa
KH. Abdul Rasyid AS. (Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah)
(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al Hajj 41).
Dalam tafsir Al Muharrir al Wajiz dikatakan bahwa ayat tersebut diturunkan tentang para sahabat Rasulullah saw., lebih khusus tentang Khulafaur Rasyidin yang empat (Khalifah Abu Bakar Shiddiq r.a., Umar bin Al Khaththab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a.). Namun secara umum ditujukan kepada siapa saja di antara umat manusia yang mendapatkan kekuasaan di muka bumi.
Orang-orang yang mendapatkan kekuasaan itu mendirikan sholat dan menunaikan zakat, serta memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar. Tentang sholat dan zakat ini adalah perkara mendasar yang harus ditegakkan. Sedangkan memerintahkan yang makruf (al makruf) dan melarang yang mungkar (al munkar) dilaksanakan sesuai kekuatannya sebagai penguasa. Sebab, huruf “al” dalam “al makruf” dan “al munkar” dalam ayat tersebut memberikan pengertian umum, yakni “al makruf” mencakup pengertian “al iman” dan segala perkara yang ada di bawahnya, sedangkan “al munkar” mencakup pengertian “al kufur” dan segala perkara yang ada di bawahnya.
Misi Penguasa Muslim
Dengan demikian orang-orang yang dikokohkan posisinya di muka bumi, yakni para penguasa muslim memiliki misi mulia mengajak kepada keimanan dan segala amal sholih, baik yang terkategori wajib maupun yang terkategori sunnah. Bahkan dalam perkara amal sholih yang mungkin dianggap sepele pun Rasulullah saw. tetap menganjurkan agar diperhatikan sebagaimana sabdanya: “ Janganlah kalian meremehkan suatu perbuatan makruf sedikitpun, walaupun sekedar kalian ketemu dengan saudara kalian dengan wajah yang berseri-seri”. Tentu saja sebaliknya penguasa muslim punya misi untuk menghilangkan kekufuran dan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT.
Tentang misi penguasa muslim ini diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan kepada penguasa Yaman untuk mengajak mereka terlebih dahulu masuk Islam, sebagaimana Sabda Nabi saw. kepada Muadz bin Jabal ketika menugaskannya menjadi wali (semacam gubernur) di Yaman:
ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah. Kalau mereka mentaati hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mentaati hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan zakat atas harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka…(Sahih Bukhari Juz 5/201).
Selain mengajak kepada Islam, memerintahkan rakyat melaksanakan sholat dan membayar zakat, juga penguasa muslim wajib menasihati rakyatnya agar hidup sesuai dengan ajaran Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang diberi kekuasaan untuk mengatur rakyat muslim dan tidak menasihati rakyatnya, melainkan dia tidak mencium harumnya surga”.
Selain menasihati, penguasa muslim dengan kekuasaannya wajib menghilangkan segala bentuk kemungkaran. Baik itu puncak kemungkaran, yakni kekufuran, kemurtadan, dan kemusyrifan, maupun kemungkaran yang lebih rendah seperti pelanggaran hukum-hukum hudud. Khalifah Abu Bakar r.a. mengirim 10 divisi pasukan kaum muslimin untuk menasihati dan mengembalikan orang-orang yang murtad agar kembali kepada Islam. Mereka yang tidak mau kembali diperangi dan dihukum mati. Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. pernah memenjarakan para ahli nujum yang meramalkan nasib dan hari-hari naasnya.
Tugas penguasa muslim hari ini
Penguasa muslim hari ini mendorong dan menegakkan sholat jamaah lima waktu di masjid-masjid maupun musholla, serta menarik zakat dari kaum muslim yang kaya untuk mengangkat kemampuan ekonomi kaum dhuafa. Juga wajib menyeru manusia kepada system kehidupan Islam yang kaffah, baik system ekonomi, politik, pendidikan, hankam, dan lain-lain dengan menggunakan stasiun TV negara, radio, koran-koran maupun berbagai sarana lainnya. Selain itu, penguasa muslim wajib mengadakan pendidikan Islam yang melahirkan pribadi-pribadi muslim yang mulia dan punya keunggulan dalam kemampuan dan ketrampilan sains dan teknologi. Dan penguasa muslim tidak boleh melalaikan penegakan hukum syariat untuk menjaga hak-hak masyarakat dan menghilangkan berbagai kemaksiatan dan kemungkaran. Bila semua tugas tersebut dikerjakan dengan baik, niscaya terwujudlah negeri kita menjadi negeri yang disebut Allah SWT baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahua’lam!
http://suara-islam.com/index.php/Ibrah/TUGAS-ORANG-ORANG-YANG-BERKUASA.html
(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al Hajj 41).
Dalam tafsir Al Muharrir al Wajiz dikatakan bahwa ayat tersebut diturunkan tentang para sahabat Rasulullah saw., lebih khusus tentang Khulafaur Rasyidin yang empat (Khalifah Abu Bakar Shiddiq r.a., Umar bin Al Khaththab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a.). Namun secara umum ditujukan kepada siapa saja di antara umat manusia yang mendapatkan kekuasaan di muka bumi.
Orang-orang yang mendapatkan kekuasaan itu mendirikan sholat dan menunaikan zakat, serta memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar. Tentang sholat dan zakat ini adalah perkara mendasar yang harus ditegakkan. Sedangkan memerintahkan yang makruf (al makruf) dan melarang yang mungkar (al munkar) dilaksanakan sesuai kekuatannya sebagai penguasa. Sebab, huruf “al” dalam “al makruf” dan “al munkar” dalam ayat tersebut memberikan pengertian umum, yakni “al makruf” mencakup pengertian “al iman” dan segala perkara yang ada di bawahnya, sedangkan “al munkar” mencakup pengertian “al kufur” dan segala perkara yang ada di bawahnya.
Misi Penguasa Muslim
Dengan demikian orang-orang yang dikokohkan posisinya di muka bumi, yakni para penguasa muslim memiliki misi mulia mengajak kepada keimanan dan segala amal sholih, baik yang terkategori wajib maupun yang terkategori sunnah. Bahkan dalam perkara amal sholih yang mungkin dianggap sepele pun Rasulullah saw. tetap menganjurkan agar diperhatikan sebagaimana sabdanya: “ Janganlah kalian meremehkan suatu perbuatan makruf sedikitpun, walaupun sekedar kalian ketemu dengan saudara kalian dengan wajah yang berseri-seri”. Tentu saja sebaliknya penguasa muslim punya misi untuk menghilangkan kekufuran dan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT.
Tentang misi penguasa muslim ini diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan kepada penguasa Yaman untuk mengajak mereka terlebih dahulu masuk Islam, sebagaimana Sabda Nabi saw. kepada Muadz bin Jabal ketika menugaskannya menjadi wali (semacam gubernur) di Yaman:
ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah. Kalau mereka mentaati hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mentaati hal itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan zakat atas harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka…(Sahih Bukhari Juz 5/201).
Selain mengajak kepada Islam, memerintahkan rakyat melaksanakan sholat dan membayar zakat, juga penguasa muslim wajib menasihati rakyatnya agar hidup sesuai dengan ajaran Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang diberi kekuasaan untuk mengatur rakyat muslim dan tidak menasihati rakyatnya, melainkan dia tidak mencium harumnya surga”.
Selain menasihati, penguasa muslim dengan kekuasaannya wajib menghilangkan segala bentuk kemungkaran. Baik itu puncak kemungkaran, yakni kekufuran, kemurtadan, dan kemusyrifan, maupun kemungkaran yang lebih rendah seperti pelanggaran hukum-hukum hudud. Khalifah Abu Bakar r.a. mengirim 10 divisi pasukan kaum muslimin untuk menasihati dan mengembalikan orang-orang yang murtad agar kembali kepada Islam. Mereka yang tidak mau kembali diperangi dan dihukum mati. Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. pernah memenjarakan para ahli nujum yang meramalkan nasib dan hari-hari naasnya.
Tugas penguasa muslim hari ini
Penguasa muslim hari ini mendorong dan menegakkan sholat jamaah lima waktu di masjid-masjid maupun musholla, serta menarik zakat dari kaum muslim yang kaya untuk mengangkat kemampuan ekonomi kaum dhuafa. Juga wajib menyeru manusia kepada system kehidupan Islam yang kaffah, baik system ekonomi, politik, pendidikan, hankam, dan lain-lain dengan menggunakan stasiun TV negara, radio, koran-koran maupun berbagai sarana lainnya. Selain itu, penguasa muslim wajib mengadakan pendidikan Islam yang melahirkan pribadi-pribadi muslim yang mulia dan punya keunggulan dalam kemampuan dan ketrampilan sains dan teknologi. Dan penguasa muslim tidak boleh melalaikan penegakan hukum syariat untuk menjaga hak-hak masyarakat dan menghilangkan berbagai kemaksiatan dan kemungkaran. Bila semua tugas tersebut dikerjakan dengan baik, niscaya terwujudlah negeri kita menjadi negeri yang disebut Allah SWT baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahua’lam!
http://suara-islam.com/index.php/Ibrah/TUGAS-ORANG-ORANG-YANG-BERKUASA.html
Membangun Jamaah Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar
KH. Abdul Rasyid AS (Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah)
Allah SWT berfirman:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran 104).
Wajib adanya kelompok dakwah
Dalam ayat di atas Allah SWT memerintahkan kepada kita umat Islam agar membangun segolongan atau sekelompok orang yang memiliki tugas menyeru kepada kebajikan (al khair), menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Pujian Allah SWT dalam akhir ayat tersebut, yakni merekalah orang-orang yang beruntung merupakan indikasi (qarinah) bahwa perintah tersebut hukumnya wajib.
Kewajiban membangun kelompok tersebut bukanlah untuk memecah-belah umat Islam ke dalam kelompok-kelompok. Tetapi kewajiban itu dimaknai bahwa melaksanakan tugas mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, itu menurut sebagian ulama bukanlah kewajiban semua umat tapi kewajiban sekelompok umat yang memiliki kualifikasi mampu melaksanakan tugas tersebut.
Oleh karena itu, menurut Tafsir Jalalain melaksanakan dakwah mengajak kepada Islam dan melakukan amar makruf nahi munkar hukumnya adalah fardlu kifayah, yakni tidak wajib bagi seluruh umat dan tidak mengikat semua orang seperti orang bodoh misalnya.
Az Zamakhsyari dalam Tafsir al Kassyaf menerangkan bahwa lafazh “min” dalam ayat “wal takun minkum” di atas maknanya untuk sebagian (lit tab’idl). Sebab amar makruf nahi mungkar merupakan fardlu kifayah. Dan tidak layak melakukan amar makruf nahi munkar kecuali orang yang tahu “al makruf” dan “al munkar” serta mengetahui bagaimana mengatur urusan tersebut dalam menjalankan dan melaksanakannya.
Orang yang tidak tahu menahu tentang hal itu bisa jadi melarang yang makruf dan menyuruh yang munkar. Bisa jadi dia tahu hukum-hukum di madzhabnya dan tidak tahu hukum-hukum di madzhab kawannya sehingga bisa jadi dia melarang sesuatu yang sebenarnya bukan kemungkaran. Bisa pula dia bersikap keras pada perkara yang seharusnya disikapi secara lembut atau bersikap lembut pada perkara yang seharusnya disikapi dengan keras.
Disinilah perlunya kelompok orang yang sudah memiliki pengetahuan tentang amar makruf nahi meungkar dan tata cara melaksanakannya.
Imam at Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud “al khair” dalam ayat di atas adalah al Islam dan syariat-syariatnya. Dengan demikian kelompok orang yang melksanakan tugas tersebut harus memiliki ilmu pengetahuan tentang ajaran Islam dan hukum-hukum syariatnya, baik hukum-hukum yang berkenaan dengan urusan aqidah, seperti hukum tentang larangan murtad; hukum-hukum berkaitan dengan ibadah seperti sholat, shaum, haji, dan jihad; hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak; hukum-hukum yang berkaitan dengan halal haramnya makanan dan minuman serta hukum-hukum tentang pakaian; hukum-hukum seputar ekonomi makro maupun mikro, seperti hukum syariat tentang kepemilikan umum umat yang tidak boleh diprivatisasi oleh negara; hukum-hukum pidana Islam seperti hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafat; hukum-hukum tentang politik dalam negeri seperti hukum-hukum tentang partai dan pemerintahan; hukum-hukum poltik luar negeri seperti kewajiban dakwah dan jihad, dan lain-lain.
Urgensi Kelompok Dakwah dan Pelaksana Amar Makruf Nahi Munkar
Huruf “al” dalam lafazh “al khair”, “al makruf” dan “al munkar” pada ayat di atas menunjukkan bahwa tugas segolongan atau sekelompok umat di atas meliputi mendakwahkan seluruh kebajikan Islam dan syariatnya, menyuruh segala kemakrufan, dan mencegah seluruh kemungkaran. Baik yang dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat, maupun negara. Oleh karenanya, keberadaan kelompok umat Islam yang melakukan tugas tersebut dan memiliki kapasitas kemampuan yang mencukupi untuk melaksanakan tugas tersebut menjadi sangat urgen.
Sebab dengan hilangnya gambaran kehidupan Islam yang sebenarnya di masyarakat yang umumnya telah membatasi Islam sekedar pada aqidah, ibadah, dan akhlak dan dominasi kehidupan sekuler serta serbuan informasi dari media massa cetak dan elektronik yang menawarkan dan mengajarkan hedonisme dan cara-cara hidup sekuler, kita butuh sekelompok orang yang memapu menyajikan gambaran kehidupan Islam secara jelas sehingga umat bisa memahami dan tergerak untuk mewujudkannya.
Demikian pula dengan terhentinya amar makruf nahi mungkar di tengah berjalannya kehidupan sekuler yang penuh dengan aktivis dan propaganda agar meninggalkan dan menanggalkan agama (Islam khususnya), mengharuskan adanya aktivitas amar makruf nahi mungkar. Menyuruh pemerintah untuk melindungi umat dari bahaya pornografi dan pornoaksi dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang merujuk kepada syariat Allah SWT adalah bentuk “al amru bil makruf”.
Sedangkan menentang UU Migas dan UU Sumber Daya Air yang telah memberikan kesempatan pihak asing menguasai sumber daya alam kita adalah bentuk “an nahyu anil munkar”. Mengingat besarnya permasalahan yang harus ditangani dalam amar makruf nahi munkar, maka keberadaan segolongan orang yang bersama-sama bekerja secara sistematis untuk itu adalah suatu kebutuhan.
Selain itu Allah SWT berfirman:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah 71). Juga firman-Nya:
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal 25).
Kesimpulan
Membangun jamaah untuk mengajak manusia kepada Islam dan syariatnya serta menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang munkar adalah fardlu kifayah. Tidak harus dilakukan oleh semua umat islam. Tapi oleh mereka yang memiliki pengetahuan tentang “al Islam” , “al makruf” dan “al munkar” dan mengetahui tatacara pelaksanaan dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar. Dengan demikian keberadaan jamaah atau kelompok yang melaksanakan dakwah mengajak kepada Islam dan amar makruf nahi mungkar adalah wajib dan urgen di masa dimana umat islam ini didominasi oleh kehidupan sekuler. Wallahua’lam! (mj/www.suara-islam.com)
Allah SWT berfirman:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran 104).
Wajib adanya kelompok dakwah
Dalam ayat di atas Allah SWT memerintahkan kepada kita umat Islam agar membangun segolongan atau sekelompok orang yang memiliki tugas menyeru kepada kebajikan (al khair), menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Pujian Allah SWT dalam akhir ayat tersebut, yakni merekalah orang-orang yang beruntung merupakan indikasi (qarinah) bahwa perintah tersebut hukumnya wajib.
Kewajiban membangun kelompok tersebut bukanlah untuk memecah-belah umat Islam ke dalam kelompok-kelompok. Tetapi kewajiban itu dimaknai bahwa melaksanakan tugas mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, itu menurut sebagian ulama bukanlah kewajiban semua umat tapi kewajiban sekelompok umat yang memiliki kualifikasi mampu melaksanakan tugas tersebut.
Oleh karena itu, menurut Tafsir Jalalain melaksanakan dakwah mengajak kepada Islam dan melakukan amar makruf nahi munkar hukumnya adalah fardlu kifayah, yakni tidak wajib bagi seluruh umat dan tidak mengikat semua orang seperti orang bodoh misalnya.
Az Zamakhsyari dalam Tafsir al Kassyaf menerangkan bahwa lafazh “min” dalam ayat “wal takun minkum” di atas maknanya untuk sebagian (lit tab’idl). Sebab amar makruf nahi mungkar merupakan fardlu kifayah. Dan tidak layak melakukan amar makruf nahi munkar kecuali orang yang tahu “al makruf” dan “al munkar” serta mengetahui bagaimana mengatur urusan tersebut dalam menjalankan dan melaksanakannya.
Orang yang tidak tahu menahu tentang hal itu bisa jadi melarang yang makruf dan menyuruh yang munkar. Bisa jadi dia tahu hukum-hukum di madzhabnya dan tidak tahu hukum-hukum di madzhab kawannya sehingga bisa jadi dia melarang sesuatu yang sebenarnya bukan kemungkaran. Bisa pula dia bersikap keras pada perkara yang seharusnya disikapi secara lembut atau bersikap lembut pada perkara yang seharusnya disikapi dengan keras.
Disinilah perlunya kelompok orang yang sudah memiliki pengetahuan tentang amar makruf nahi meungkar dan tata cara melaksanakannya.
Imam at Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud “al khair” dalam ayat di atas adalah al Islam dan syariat-syariatnya. Dengan demikian kelompok orang yang melksanakan tugas tersebut harus memiliki ilmu pengetahuan tentang ajaran Islam dan hukum-hukum syariatnya, baik hukum-hukum yang berkenaan dengan urusan aqidah, seperti hukum tentang larangan murtad; hukum-hukum berkaitan dengan ibadah seperti sholat, shaum, haji, dan jihad; hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak; hukum-hukum yang berkaitan dengan halal haramnya makanan dan minuman serta hukum-hukum tentang pakaian; hukum-hukum seputar ekonomi makro maupun mikro, seperti hukum syariat tentang kepemilikan umum umat yang tidak boleh diprivatisasi oleh negara; hukum-hukum pidana Islam seperti hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafat; hukum-hukum tentang politik dalam negeri seperti hukum-hukum tentang partai dan pemerintahan; hukum-hukum poltik luar negeri seperti kewajiban dakwah dan jihad, dan lain-lain.
Urgensi Kelompok Dakwah dan Pelaksana Amar Makruf Nahi Munkar
Huruf “al” dalam lafazh “al khair”, “al makruf” dan “al munkar” pada ayat di atas menunjukkan bahwa tugas segolongan atau sekelompok umat di atas meliputi mendakwahkan seluruh kebajikan Islam dan syariatnya, menyuruh segala kemakrufan, dan mencegah seluruh kemungkaran. Baik yang dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat, maupun negara. Oleh karenanya, keberadaan kelompok umat Islam yang melakukan tugas tersebut dan memiliki kapasitas kemampuan yang mencukupi untuk melaksanakan tugas tersebut menjadi sangat urgen.
Sebab dengan hilangnya gambaran kehidupan Islam yang sebenarnya di masyarakat yang umumnya telah membatasi Islam sekedar pada aqidah, ibadah, dan akhlak dan dominasi kehidupan sekuler serta serbuan informasi dari media massa cetak dan elektronik yang menawarkan dan mengajarkan hedonisme dan cara-cara hidup sekuler, kita butuh sekelompok orang yang memapu menyajikan gambaran kehidupan Islam secara jelas sehingga umat bisa memahami dan tergerak untuk mewujudkannya.
Demikian pula dengan terhentinya amar makruf nahi mungkar di tengah berjalannya kehidupan sekuler yang penuh dengan aktivis dan propaganda agar meninggalkan dan menanggalkan agama (Islam khususnya), mengharuskan adanya aktivitas amar makruf nahi mungkar. Menyuruh pemerintah untuk melindungi umat dari bahaya pornografi dan pornoaksi dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang merujuk kepada syariat Allah SWT adalah bentuk “al amru bil makruf”.
Sedangkan menentang UU Migas dan UU Sumber Daya Air yang telah memberikan kesempatan pihak asing menguasai sumber daya alam kita adalah bentuk “an nahyu anil munkar”. Mengingat besarnya permasalahan yang harus ditangani dalam amar makruf nahi munkar, maka keberadaan segolongan orang yang bersama-sama bekerja secara sistematis untuk itu adalah suatu kebutuhan.
Selain itu Allah SWT berfirman:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah 71). Juga firman-Nya:
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal 25).
Kesimpulan
Membangun jamaah untuk mengajak manusia kepada Islam dan syariatnya serta menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang munkar adalah fardlu kifayah. Tidak harus dilakukan oleh semua umat islam. Tapi oleh mereka yang memiliki pengetahuan tentang “al Islam” , “al makruf” dan “al munkar” dan mengetahui tatacara pelaksanaan dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar. Dengan demikian keberadaan jamaah atau kelompok yang melaksanakan dakwah mengajak kepada Islam dan amar makruf nahi mungkar adalah wajib dan urgen di masa dimana umat islam ini didominasi oleh kehidupan sekuler. Wallahua’lam! (mj/www.suara-islam.com)
Wednesday, June 24, 2009
Letak Kebahagiaan adalah Di Hati
Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang
menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan
adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki
rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain
sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia.
Namun apakah betul seperti itu? Simak tulisan berikut ini.
Kebahagiaan untuk Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh
Saudaraku … Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang
sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya
yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang
selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka
begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau
melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang
paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut.
Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97).
Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan
kehidupan yang baik.
“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).
Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya,
pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan
sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka
mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.
(Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang
telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang
mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3).
Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan
beramal sholeh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang beriman, bertakwalah kepada
Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.
Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Inilah empat tempat dalam Al Qur’an yang menjelaskan balasan bagi orang
yang beriman dan beramal sholeh. Ada dua balasan yang mereka peroleh yaitu
balasan di dunia dan balasan di akhirat. Itulah dua kebahagiaan yang
nantinya mereka peroleh. Ini menunjukkan bahwa mereka-lah orang yang akan
berbahagia di dunia dan akhirat.
Salah Satu Bukti
Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya
begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan
karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin
Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin
Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah
Abul ‘Abbas.
Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya
yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam
penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang
lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan
kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan
siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu
berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh
beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah
termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling
tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar
kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah),
jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami
prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup,
kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya
memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang
semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang,
tegar, yakin dan tenang”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada
Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku?
Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”
Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau
berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun
beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas,
tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku di sini.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Sebenarnya orang
yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal
Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih
terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan).”
Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak do’a
agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu do’a: Allahumma a’inni ‘ala
dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan
agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih
sempat di saat sujud, beliau mengucapkan do’a ini. Padahal beliau sedang
dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.
Tatkala beliau masuk dalam sel penjara, hingga berada di balik dinding,
beliau mengatakan,
“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah
dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al
Hadid: 13)
Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang
kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan
juga pangeran.
Para salaf mengatakan,
“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di
hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”
Mendapatkan Surga Dunia
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia
tidak akan memperoleh surga akhirat.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah,
mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah
ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya,
memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa
bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.
Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.
Itulah saudaraku surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih
kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa
takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.
Penutup
Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki
istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak
kebahagiaan adalah di dalam hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau
banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang
selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia
yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya.
Alhamdulillahilladz i bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala
nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
***
Sumber rujukan: Shahih Al Wabilush Shoyyib, 91-96, Dar Ibnul Jauziy
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya: Muhammad Abduh
Tuasikal
copas dr milis [daarut-tauhiid]
menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan
adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki
rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain
sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia.
Namun apakah betul seperti itu? Simak tulisan berikut ini.
Kebahagiaan untuk Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh
Saudaraku … Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang
sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya
yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang
selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka
begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau
melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang
paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut.
Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97).
Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan
kehidupan yang baik.
“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).
Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya,
pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan
sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka
mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.
(Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang
telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang
mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3).
Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan
beramal sholeh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang beriman, bertakwalah kepada
Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.
Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Inilah empat tempat dalam Al Qur’an yang menjelaskan balasan bagi orang
yang beriman dan beramal sholeh. Ada dua balasan yang mereka peroleh yaitu
balasan di dunia dan balasan di akhirat. Itulah dua kebahagiaan yang
nantinya mereka peroleh. Ini menunjukkan bahwa mereka-lah orang yang akan
berbahagia di dunia dan akhirat.
Salah Satu Bukti
Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya
begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan
karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin
Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin
Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah
Abul ‘Abbas.
Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya
yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam
penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang
lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan
kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan
siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu
berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh
beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah
termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling
tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar
kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah),
jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami
prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup,
kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya
memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang
semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang,
tegar, yakin dan tenang”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada
Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku?
Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”
Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau
berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun
beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas,
tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku di sini.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Sebenarnya orang
yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal
Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih
terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan).”
Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak do’a
agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu do’a: Allahumma a’inni ‘ala
dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan
agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih
sempat di saat sujud, beliau mengucapkan do’a ini. Padahal beliau sedang
dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.
Tatkala beliau masuk dalam sel penjara, hingga berada di balik dinding,
beliau mengatakan,
“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah
dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al
Hadid: 13)
Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang
kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan
juga pangeran.
Para salaf mengatakan,
“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di
hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”
Mendapatkan Surga Dunia
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia
tidak akan memperoleh surga akhirat.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah,
mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah
ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya,
memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa
bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.
Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.
Itulah saudaraku surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih
kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa
takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.
Penutup
Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki
istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak
kebahagiaan adalah di dalam hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau
banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang
selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia
yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya.
Alhamdulillahilladz i bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala
nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
***
Sumber rujukan: Shahih Al Wabilush Shoyyib, 91-96, Dar Ibnul Jauziy
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya: Muhammad Abduh
Tuasikal
copas dr milis [daarut-tauhiid]
Labels:
hati,
Letak Kebahagiaan adalah Di Hati,
qalbu
Saturday, June 6, 2009
TAFSIR AYAT KHILAFAH
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٠
MUFRODAT
إذ dan إذا adalah dua huruf tauqiit (yang menetapkan waktu). Maka إذ untuk masa lalu sedangkan إذا untuk masa yang akan datang.[1]
الرب artinya penguasa, Tuan, Yang memperbaiki.[2]
الملآئكة bentuk jamak dari الملك artinya adalah utusan . Kalau dikatakan : ألكنى Artinya utuslah aku.[3]
TAFSIR AYAT
Khalifah makna asalnya adalah mengganti, dari kata ‘kholafa fulanun fulanan fi hadza al amri idza qooma maqoomahu fiihi ba’dahu’. Si Fulan disebut menjadi khalifah bagi orang lain bila dia menempati posisi orang tersebut setelahnya. Sebagaimana firman Allah :” Kemudian Kami jadikan kalian sebagai khalifah di bumi setelah mereka agar Kami melihat bagaimana kalian beramal.” Artinya Allah menjadikan kalian sebagai pengganti mereka setelahnya di muka bumi. Oleh karena itu penguasa tertinggi disebut khalifah karena dia menggantikan orang yang sebelumnya lalu menduduki posisi orang yang digantikannya.[4]
Para ulama ahli tafsir menafsirkan makna khalifah dalam ayat ini dengan versi yang berbeda-beda. Setidaknya ada dua penafsiran penting. Pertama, makna khalifah dalam ayat ini adalah pengganti makhluk sebelumnya dari kalangan malaikat dimuka bumi atau makhluk lain selain malaikat.[5] Hal ini didasarkan kepada beberapa riwayat. Diantaranya:
1. Telah berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu:”Makhluk yang pertama kali menghuni bumi adalah jin, lalu mereka mengadakan kerusakan di muka bumi, mengalirkan darah, dan saling membunuh satu sama lain. Lalu Allah mengutus Iblis kepada mereka berserta pasukan malaikat lalu Iblis membunuh para jin tersebut sampai menggiring mereka ke beberapa pulau di lautan serta ke lereng-lereng gunung.Lalu Allah menciptakan Adam dan menempatkannya di bumi, maka inilah yang dimaksud firman Allah ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalaifah (pengganti) bangsa jin di muka bumi, yang menggantikan mereka di dalamnya lalu tinggal di dalamnya dan memakmurkannya.[6]
2. Telah berkata Robi’Bin Anas Radhiyallahu ‘anhu :” Sesungguhnya Allah menciptakan malaikat pada hari Rabu, dan menciptakan jin pada hari Kamis, serta menciptakan Adam pada hari Jumat. Lalu kafirlah satu kaum dari bangsa jin, maka para malaikatpun turun ke muka bumi lalu memerangi mereka. Sebelumnya mereka suka menumpahkan darah dan mengadakan kerusakan di muka bumi”. Berkata yang lainnya tentang ayat ini :” Artinya mereka saling menggantikan satu sama lain. Mereka adalah anak-anak Adam yang menggantikan bapak mereka yaitu Adam. Dan setiap generasi menggantikan generasi sebelumnya.” Ini merupakan perdapat yang dihikayatkan dari Hasan Basri.[7]
3. Telah berkata Ibnu Abbas :” Iblis termasuk kelompok malaikat yang disebut jin yang diciptakan dari api yang sangat panas. Dia bernama Harits. Dia termasuk penduduk jannah ( Surga). Sedangkan malaikat seluruhnya diciptakan dari cahaya kecuali kelompok Iblis tadi. Adapun jin yang diceriterakan di dalam Al Quran diciptakan dari lidah api dan manusia diciptakan dari dari tanah. Maka makhluk yang pertama menghuni bumi adalah jin lalu mereka mengadakan kerusakan di dalamnya, menumpahkan darah, dan saling membunuh satu sama lainnya. Lalu Allah mengutus Iblis di barisan malaikat. Iblis adalah golongan malaikat yang disebut jin. Lalu Iblis dan malaikat memerangi jin sampai menggiring mereka ke lautan dan gunung-gunung. Maka ketika Iblis telah melakukan hal itu diapun menipu dirinya sendiri dan berkata :”Aku telah melakukan suatu hal yang tidak pernah dilakukan seorangpun, lalu Allah mengetahui hal itu dari hatinya yang tidak diketahui oleh para malaikat yang bersama-sama Iblis. Lalu berfirmanlah Allah kepada para malaikat yang sedang bersama Iblis :” Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi.” Maka malaikat menjawab :” Apakah Engkau akan menjadikan makhluk di dalamnya yang akan mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah sebagaimana yang telah dilakukan bangsa jin, padahal kami hanyalah diutus untuk memberantas mereka?” Maka Allah menjawab :” Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui. Artinya Aku mengetahui isi hati Iblis yang tidak kalian ketahui berupa ketakaburan dan menipu diri sendiri. Lalu Allah memerintahkan Iblis untuk mengambil tanah lalu Allah menciptakan Adam dari tanah yang lengket dari lumpur yang sangat bau. Lalu Adampun tinggal selama 40 hari berupa jasad yang kosong, lalu Iblis mendatanginya dan memukulnya dengan kakinya hingga bersuara, maka inilah yang dimaksud dengan firman Allah : “ Dan Allah telah menciptakan manusia dari tanah seperti tembikar.” Lalu Iblis masuk ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya, kemudian masuk lagi ke dalam duburnya dan keluar dari mulutnya, kemudian berkata :” Kamu bukanlah apa-apa dan diciptakan bukan untuk apa-apa, seandainya aku berkuasa atasmu pasti akan aku binasakan kamu dan seandainya kamu yang berkuasa atasku, maka aku akan bermaksiat kepadamu. Maka ketika Allah meniupkan ruhnya masuklah ruh itu dari arah kepalanya maka tidaklah ruh itu melalui bagian tubuhnya kecuali berubahlah tubuh itu menjadi daging dan darah. Maka ketika ruh sampai di pusarnya, diapun melihat ke jasadnya lalu diapun mengagumi apa yang dia lihat karena bagusnya, lalu diapun berusaha untuk bangkit tapi tidak mampu. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah :” Dan manusia itu punya sifat terburu-buru.” Artinya suka berkeluh kesah dan tidak sabar baik ketika senang ataupun ketika susah. Maka ketika tiupan ruh telah sampai ke jasadnya diapun bersin lalu berkata “Alhamdulillah” berdasarkan ilham dari Allah. Lalu Allah berkata :” Yarhamukallah Ya Adam. Kemudian Allah berkata secara khusus kepada para malaikat yang dulu bersama Iblis selain kepada malaikat yang ada di langit,” Sujudlah kalian kepada Adam !” Maka merekapun lalu sujud semuanya kecuali Iblis dia enggan dan takabur karena memang sifat ini telah terdapat di dalam dirinya sebelumnya, lalu dia berkata :” Aku tidak akan sujud kepadanya. Aku lebih baik dari padanya, lebih tua usianya, dan lebih kuat badannya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Diapun mengatakan bahwa api lebih kuat dari tanah. Ketika Iblis enggan untuk sujud, maka Allahpun membuatnya putus asa dari semua kebaikan dan Allahpun menjadikannya sebagai syetan yang terkutuk sebagai hukuman bagi kemaksiatannya. Lalu Allah mengajari Adam tentang semua nama, yaitu nama-nama yang dikenal oleh manusia sekarang seperti orang, hewan, bumi, mudah, lautan, gunung, himar, dan lain-lain. Kemudian nama-nama tadi disodorkan kepada para malaikat yang dulu bersama-sama Iblis yang diciptakan dari api yang panas. Lalu Allah bertanya :”Beritahukanlah kepada-Ku tentang nama-nama ini kalau kalian termasuk yang benar bahwa kalian mengetahui bahwa Aku menjadikan khalifah di muka bumi. Maka ketika para malaikat tahu hukuman Allah atas mereka tentang pembicaraan mereka tentang hal yang gaib yang tidak ada ilmu pada mereka tentang hal itu, merekapun berkata :” Maha Suci Engkau –Ini pensucian terhadap Allah dari anggapan bahwa ada seseorang yang mengetahui hal yang gaib selain Dia.- Kami bertaubat kepada-Mu. Kami tidak mempunyai ilmu kecuali apa-apa yang Engkau ajarkan kepada Kami sebagaimana yang telah Engkau ajarkan kepada Adam. Lalu Allah berfirman :” Hai Adam beritahukanlah tentang nama-nama itu kepada mereka.!” Maka ketika Adam memberitahukan tentang nama-nama itu kepada mereka, Allahpun berfirman :” Bukankah telah Aku katakan kepada kalian hai malaikat bahwa Aku mengetahui hal yang gaib baik yang ada di langit ataupun yang ada di bumi di mana tak seorangpun yang mengetahuinya selain Aku. Dan Akupun mengetahui apa-apa yang kamu tampakkan dan apa-apa yang kamu sembunyikan.- Aku mengetahui hal-hal yang rahasia sebagaimana Aku mengetahui hal-hal yang nampak, yakni apa-apa yang disembunyikan oleh Iblis di dalam hatinya berupa ketakaburan.
Riwayat dari Ibnu Abbas ini menerangkan bahwa fiman Allah :” Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah dibumi.” Merupakan ucapan Allah kepada para malaikat tertentu dan bukan kepada seluruh malaikat. Dan ucapan ini ditujukan kepada para malaikat yang merupakan kabilah Iblis secara khusus yang memerangi bangsa jin di muka bumi sebelum diciptakannya Adam. Dan Allah mengkhususkan ucapan ini kepada mereka sebagai ujian bagi mereka agar mereka mengetahui keterbatasan ilmu mereka dan keunggulan makhluk yang fisiknya lebih lemah dari mereka, serta agar merekapun mengetahui bahwa kemulyaan tidak bisa didapat dengan kekuatan badan dan kelebihan fisik sebagaimana yang diduga Iblis.[8]
Riwayat-riwayat yang senada dengan riwayat di atas sangat banyak yang intinya menerangkan makna khalifah sebagai pengganti makhluk sebelumnya. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh dipersilakan untuk merujuk tafsir At Thabari ketika menerangkan ayat ini.
Penafsiran kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini adalah pengganti Allah dalam menerapkan hukum-hukum dan perintah-Nya dimuka bumi. Hal ini didasarkan kepada beberapa riwayat, diantaranya :
1. Perkataan Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan :” Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.” Maksudnya adalah yang menggantikan Aku dalam menghukumi makhluk-Ku. Dan khalifah tersebut adalah Adam ‘Alaihi Sallam dan orang-orang yang menduduki posisi tersebut dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menerapkan hukum dengan adil diantara makhluk-Nya. Adapun orang yang mengadakan kerusakan dan pertumpahan darah tanpa alasan yang benar,maka itu bukanlah termasuk khalifah-Nya.[9]
2. Imam Al Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini berkata :” Dan makna khalifah di sini –berdasarkan ucapan Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu dan semua ahli tafsir- adalah Adam ‘Alaihi Sallam. Dia adalah khalifah Allah dalam menerapkan hukum-hukum dan perintah-Nya, karena dialah orang yang pertama diutus ke bumi sebagaimana hadis Abu Dzar, dia berkata :” Aku bertanya :” Wahai rasulullah, apakah dia (Adam) adalah seorang nabi yang diutus ?” Beliau menjawab :” Ya.” Lalu ditanyakan lagi:” Kepada siapakah dia diutus padahal belum ada seorangpun dimuka bumi?” Beliau menjawab :” Dia diutus kepada anak-anaknya,mereka semuanya 40 orang dalam 20 kali kelahiran. Setiap lahir terdiri dari laki-laki dan wanita. Lalu merekapun melahirkan kembali sehingga banyak, sebagaimana firman Allah Ta’ala :” Dia menciptakan kalian dari diri yang satu dan menciptakan dari diri yang satu itu pasangannya dan tumbuhlah dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan. “ Lalu Allah menurunkan kepada mereka pengharaman bangkai, darah, dan daging babi, lalu hidup selama 930 tahun. Demikianlah yang dijelaskan oleh ahli Taurat. Sedangkan menurut riwayat Wahb Bin Munabbah, dia hidup selama seribu tahun. Wallahu A’lam.[10]
Al Qurthubi dan yang lainnya berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya
mengangkat khalifah untuk menghukumi manusia tentang apa-apa yang mereka ikhtilafkan,memutuskan perselisihan mereka, menolong orang yang didhalimi, melaksanakan hukum, memberi sanksi kepada orang yang melakukan kekejian, dan masalah penting lainnya yang tidak mungkin bisa ditegakkan kecuali dengan imam. Maka kewajiban yang tidakbisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatuitumenjadi wajib.[11]
Selanjutnya Al Qurthubi menyatakan :
Masalah keempat yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah bahwa ayat ini merupakan dalil asal tentang harus diangkatnya imam dan khalifah yang wajib didengar dan ditaati agar tercipta persatuan dan terlaksana hukum-hukum kekhalifahan. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal itu di kalangan ummat ataupun para imam. Kecuali apa yang diriwayatkan dari Al Ashom[12] karena dia memang ashom (tuli) tentang syariat. Demikian pula orang yang mengikuti pendapat dan mazdhabnya, mereka berkata :” Khalifah tidaklah wajib di dalam agama tetapi boleh (Mubah). Dan sesungguhnya ummat ketika mereka telah menunaikan haji mereka dan jihad mereka, saling berbuat adil diantara mereka, mengorbankan diri demi kebenaran, membagi ghanimah dan fai serta sodaqah kepada yang berhak, dan telah melaksanakan hukum kepada yang wajib dihukum, maka cukuplah hal itu bagi mereka. Tidaklah wajib bagi mereka untuk mengangkat imam yang mengurusi hal itu.
Dalil kami tentang wajibnya khalifah adalah firman Allah :” Sesungguhnmya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.” Dan firman Allah :” Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal shalih bahwa pasti Allah akan menjadikan mereka sebagai khlifah di bumi.” Dan ayat-ayat yang lainnya.
Para sahabatpun telah ijma dalam memilih Abu Bakar setelah ikhtilaf
yang terjadi antara Muhajirin dan Anshor di Saqifah Bani Sa’adah dalam pemilihan, sampai-sampai bangsa Anshor berkata :” Kami punya amir kalianpun (muhajirin) punya amir.” Maka Abu Bakar,Umar, serta golongan muhajirin menolak hal itu dan berkata kepada mereka :” Sesungguhnya bangsa Arab tidaklah mereka beragama kecuali karena suku Quraisy.” Lalu mereka meriwayatkan beberapa hadis tentang masalah itu, lalu merekapun (Anshor) rujuk dan taat kepada bangsa Quraisy. Seandainya mengangkat imamah tidaklah wajib baik dari kalangan Quraisy ataupun yang lainnya maka tidakmungkin terjadi perdebatan dan dialog tentang hal itu. Dan pasti akan ada salah seorang (sahabat) yang berkata bahwa hal initidak wajib baik darikalangan Quraisy ataupun yang lainnya, maka tidak ada faidahnya perdebatan kalian tentang masalah yang tidakwajib.
Kemudian Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika datang saat kematiannya,
dia menyerahkan imamah kepada Umar dan tak ada seorangpun yang mengatakan bahwa hal ini bukan urusan yang wajib.Maka semua itu menunjukan wajibnya khalifah dan termasuk salah satu diantara rukun agama yang menyebabkan tegaknya urusan kaum muslimin. Walhamdulillahi Robbil A’lamiin.[13]
SYARAT-SYARAT IMAM
Imam Qurthubi menetapkan ada sebelas syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang imam.
1. Imam harus dari bangsa Quraisy. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :” Imam-imam itu dari Quraisy. Dalam masalah ini para ulama ikhtilaf.
2. Imam harus dari kalangan yang pantas menjadi qadhi dari kalangan kaum muslimin, serang mujtahid yang tidakmembutuhkan orang lain untuk meminta fatwa dalam kasusu-kasus yang terjadi. Ini adalah hal yang disepakati.
3. Imam harus seorang yang berpengalaman, berwawasan luas tentang urusan perang dan pengaturan angkatan bersenjata, mampu menutup celah-celah yang bisa di terobos musuh, mampu memberi perlindungan kepada rakyat,mampu membalas orang yang dhalim dan mengembalikan hakorang yang didhalimi.
4. Imam tidak boleh berperasaan lemah ketika melaksanakan hukum, tidak gentar dalam memenggal kepala terhukum. Dalil tentang semua ini adalah ijma sahabat Radhiyallahu ‘anhum karena tidak ada ikhtilaf diantara mereka bahwa semua itu harus terkumpul dalam diri seorang imam karena dia harus mengurusi para qadhi dan hakim. Dialah yang langsung mengadili dan menghukum , dan memeriksa urusan kekhalifahan dan kehakiman. Tidaklah hal ini pantas untukdiemban kecuali oleh seorang yang alim tentang semua itu. Wallahu A’lam.
5. Imam harus orang yang merdeka. Dan tidaklah samar tentang disyaratkannya hal ini
6. Imam harus seorang muslim.
7. Imam harus seorang laki-laki. Para ulama telah ijma bahwa wanita tidak boleh menjadi imam sekalipun mereka ikhtilaf tentang bolehnya wanita menjadi qodhi.
8. Imam harus sehat jasmani dan
9. Imam harus baligh dan berakal. Tidak ada ikhtilaf dalam hal ini.
10. Imam harus seorang yang adil karena tidak ada ikhtilaf diantara ummat bahwa tidak boleh imamah diberikan kepada orang yang fasik. Dan wajib imam adalah seorang yang paling utama dalah ilmunya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :” Imam-imam kalian adalah pemberi syafaat bagikalian maka perhatikanlah darisiapa kalian meminta syafaat. Juga di dalam Al-Quran Allah menceritakan tentang sifat Thalut :” Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) untuk kalian dan telah menambah kelebihan dalam ilmu dan fisik.” Dalam ayat ini Allah memulai dengan ilmu kemudian baru menyebutkan apa yang menunjukkan kekuatan dan kesehatan fisik. Firman Allah :” Allah telah memilih …..” menunjukkan syarat nasab.
Imam tidak disyaratkan ma’sum (terpelihara) dari penyimpangan dan kesalahan, tidak harus mengetahui yang ghaib, tidak harus orang yang paling tajam firasatnya dan paling berani. Tidak pula harus dari Bani Hasyim saja, karena ijma telah menyatakan bahwa kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan utsman bukanlah dari Bani Hasyim.[14]
CARA PENGANGKATAN IMAM
Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa imamah ditetapkan melalui nash sebagaimana yang dikatakan oleh kalangan ahlu sunnah tentang Abu Bakar atau dengan isyarat terhadapnya seperti yang dikatakan oleh sebagian yang lain, atau dengan menyerahkan imamah kepada orang setelahnya seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu kepada Umar Bin Khathab Radhiyallahu ‘anhu , atau dengan menyerahkannya kepada dewan syuro dari kalangan orang-orang shalih seperti yang dilakukan oleh Umar, atau dengan ijma Ahlul halli wal aqdi dalam membaiat seseorang, maka menurut jumhur imam ini wajib ditaati, bahkan imam al Haramain telah menceriterakan adanya ijma tentang hal ini.[15]
Imam Qurthubi menyatakan bahwa cara pemilihan imam ada tiga. Pertama berdasarkan nash. Inipun dikatakan kalangan Hanabilah, sekelompok ahlul hadis, Hasan Basri, Bakr bin Ukhti Abdul Wahid dan para sahabatnya, serta sekelompok dari kalangan Khowarij. Hal ini didasarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang menetapkan nash tentang Abu Bakar secara tersirat. Kedua penyerahan dari khalifah sebelumnya kepada seseorang, seperti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar kepada Umar, atau diserahkan kepada satu jamaah (dewan syuro) seperti yang dilakukan oleh Umar lalu dewan itu yang memilih imam seperti apa yang dilakukan oleh para sahabat dalam memilih Utsman. Cara ketiga adalah dengan ijma ahlul halli wal aqdi. Yaitu jamaah dari negeri-negeri muslim apabila imam mereka mati dan si imam tersebut tidak menyerahkan kepada orang lain, lalu orang-orang yang ada di sekeliling imam memilih imam baru untuk mereka yang mereka sepakati dan mereka ridhoi, maka semua orang dari kalangan kaum muslimin di setiap tempat harus mentaati imam tersebut selama imam bukan orang yang terlaknat karena kefasikannya atau kerusakannya, tak boleh seorangpun menyalahi hal ini karena adanya dua imam akan memecah belah persatuan dan merusak kehidupan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :” Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati hati seorang mukmin terhadapnya. Yaitu ikhlas beramal karena Allah, menetap dalam jamaah, dan saling menasihati dengan ulil amri, karena da’wah kepada mereka meliputi orang-orang yang di belakang mereka.[16]
IMAMAH VERSI SYIAH
Hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh kalangan Imamiyah dalam
Menetapkan imamah terhadap Ali adalah sebagai berikut :
1. “Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya maka Ali adalah maula baginya. Ya Allah tolonglah orang yang menolong Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Mereka (Syiah) berkata :” Al maula secara bahasa artinya aula (yang paling utama). Maka apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan ‘Ali adalah maula bagi orang itu’ dengan menggunakan huruf ف ta’qib maka diketahuilah bahwa makan maula adalah yang paling berhak dan paling utama. Maka wajiblah maula di sana difahami imamah yang wajib ditaati.
2. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa akan tetapi tidak ada lagi nabi setelahku.” Mereka (syiah) berkata bahwa kedudukan Harun adalah ma’ruf yaitu orang yang sama-sama menyandang predikat nubuwah, tapi tidak demikian halnya dengan Ali. Harun adalah saudara bagi Musa, tapi Ali bukan saudara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , dia hanyalah khalifahnya, maka jelaslah bahwa yang dimaksud ucapan itu adalah khalifah. Dan hadis lainnya yang dijadikan dalil oleh mereka.
BANTAHAN
Imam Qurthubi ketika menjawab hadis yang pertama mengatakan bahwa hadis itu bukanlah hadis yang mutawatir bahkan diperselisihkan kesahihannya oleh para ahli hadis. Abu Dawud Sajastani dan Abu Hatim Ar Rozi telah menerangkan kebatilah hadis ini dengan mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berkata :” Muzainah, Juhainah, Ghifar, dan Aslam adalah maula-maulaku tidak seperti orang lain, mereka semua tidak mempunyai maula kecuali Allah dan rasulnya.” Seandainya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengatakan :” Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya,maka Ali adalah maula baginya.” Maka pasti salah satu dari dua hadis ini dusta.
Jawaban kedua adalah sendainya hadis itu sahih, diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqot,maka di dalamnya sama sekali tidak mengandung dalil imamah untuk Ali tapi hanya menerangkan keutamaan Ali. Karena makna maula adalah wali (penolong), sehingga makna hadis itu adalah :” Siapa yang menjadikan aku sebagai walinya maka Ali adalah wali baginya.” Allah berfirman :” Maka sesungguhnya Allah adalah maula baginya.” Maksudnya Allah adalah walinya. Jadi maksud hadis itu agar manusia mengetahui bahwa dhahir Ali seperti batinnya. Dan ini merupakan keutamaan yang agung bagi Ali.
Jawaban ketiga, bahwa hadis ini ada asbabul wurudnya (sebab-sebab terucapkannya hadis ini). Yaitu bertengkarnya Usamah dengan Ali, maka berkatalah Ali kepada Usamah :” Engkau maulaku.” Usamah menjawab :” Aku bukanlah maulamu, tapi aku adalah maula Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam .” Maka diceritakanlah hal ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka beliau menyatakan :” Siapa yang menjadikan aku sebagai Maulanya maka Ali adalah maula baginya.”
Jawaban keempat. Ketika tersebar fitnah tentang Aisyah Radhiyallahu ‘anha maka Ali berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :” Wanita selain dia (Aisyah) banyak.” Maka hal ini sangat berat dirasakan oleh Aisyah. Maka orang munafik pun mendapatkan peluang untuk mencela Ali, lalu mereka mencelanya dan menampakkan sikap berlepas diri dari Ali. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengatakan perkataan tadi sebagai bantahan terhadap orang-orang munafik dan mendustakan mereka tentang sikap berlepas diri dan celaan mereka terhadap Ali. Oleh karena itu sekelompok sahabat menyatakan :” Dulu kami tidak mengetahui orang-orang munafik di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kecuali karena kebencian mereka kepada Ali.”
[17]
Adapun hadis kedua maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya. Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.” Maka ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengatakan demikian maka hal ini menjadi dalil bahwa maksud beliau tidaklah demikian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku sebagaimana Harun menjadi pengganti (khalifah) bagi Musa atas kaumnya ketika Musa ‘Alaihi Sallam keluar (pergi) untuk menujat kepada Allah.
[18]
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pergi ke perang Tabuk, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyerahkan kekhalifahan kepada Ali di Madinah atau keluarga dan kaumnya. Maka gegerla orang-orang munafik dan berkata :” Ali ditinggalkan hanyalah karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam marah dan jengkel kepadanya.” Maka Alipun keluar menysul Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata kepadanya bahwa orang-orang munafik telah berkata begini dan begini. Maka berkatalah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :” Mereka telah dusta, bahkan aku meninggalkanmu sebagaimana Musa meninggalkan Harun.” Lalu beliau berkata :” Ridhakah kamu kalau kamu bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa ?”
Seandainya hadis ini difahami seperti anggapan Syiah yakni khilafah maka ada sahabat lainnya yang juga memperoleh kedudukan seperti ini karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selalu melimpahkan kekhalifahan kepada salah seorang diantara sahabatnya (selain Ali) setiap kali pergi berperang. Diantaranya adalah : Ibnu Ummi Maktum, Muhammad Bin Maslamah, dan sahabat yang lainnya.
[19]
Adapun tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar diterangkan dalam banyak riwayat, diantaranya ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz Bin Jabal ke Yaman. Ada seorang yang berkata :” Tidakkah engkau utus Abu Bakar dan Umar?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab :”Keduanya tidak ada yang menyamainya bagiku. Sesungguhnya kedudukan keduanya bagiku seperti kedudukan pendengaran dan penglihatan bagi kepala.:” Dalam kesempatan lainnya beliau berkata :” Keduanya merupakan dua wazirku di muka bumi.” Bahkan ada riwayat bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :” Abu Bakar dan Umar seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Perkataan ini diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara tiba-tiba sedangkan ketika mengucapkan hal itu kepada Ali karena ada sebab yang melatarbelakanginya. Maka hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakar dan Umar lebih utama untuk menjadi khalifah dari pada Ali. Wallahu A’lam.
[20]
________________________
[1]Al Qurthubi 1/261.
[2]Ibid 1/262
[3]Ibid.
[4]Tafsir At Thabari 1/156.
[5]Tafsir Al Qurthubi 1/263.
[6]Tafsir At Thabari 1/157
[7]Ibid 158
[8]At Thabari 1/159
[9]Ibid 1/157
[10]Tafsir Al Qurthubi 1/264
[11]Tafsir Ibnu Katsir 1/77.
[12]Salah seorang tokoh besar Mu’tazilah. Nama aslinya adalah Abu Bakar.
[13]Al Qurthubi 1/264.
[14]Tafsir Al Qurthubi 1/270-271.
[15]Tafsir Ibnu Katsir 1/77.
[16]Tafsir Al Qurthubi 1/268-269.
[17]Ibid 267
[18]]Ibid 268.
[19]Ibid.
[20]Ibid.
http://ustadz.abuhaidar.web.id/2009/05/21/tafsir-ayat-khilafah/
Labels:
khilafah,
khilafah islamiyah,
TAFSIR AYAT KHILAFAH
Subscribe to:
Posts (Atom)